Sabtu, 23 Agustus 2014

Oh Veranda



Tidak pernah kusangka malam itu dapat terjadi. Hanya karena iseng masuk ke wc wanita, aku dapat menikmati tubuh indah dari seorang Jessica Veranda, member dari Idol Grup JKT48.
Kejadian ini terjadi di toilet lantai 7 fX center setelah selesai jadwal theater JKT48, kira kira pukul setengah 11 malam. Kenapa aku belum pulang dari tempat itu? Karena seperti biasa, setelah theater selesai aku selalu makan malam dan nongkrong bersama teman-temanku terlebih dahulu di trotoar depan mall itu.
“eh gue ke dalem dulu ya, biasa.. ke toilet dulu, kencing eui kebelet ini” aku berkata demikian seraya pergi meninggalkan teman-temanku.
“yaudah, jangan lama-lama ya.. bentar lagi mau cabut nih” jawab temanku dan hanya kurespon dengan mengacungkan kedua jempol tanganku.
Aku pun kembali masuk ke mall tersebut, dan bergegas ke WC, ah kupikir asik kalau aku ke WC lantai 4 aja. Yaa siapa tau ketemu member JKT48 selagi menuju ke sana. Kan lumayan, bonus..
Ketika sampai di WC lantai 4, aku dilarang masuk oleh petugas kebersihan, “mas jangan pakai WC sini mas, lagi dibersihin. Lantai 5 juga lagi dibersihin sama teman saya. Jadi, mas pakai WC di lantai 7 aja ya”.
No problem sih. Walau lumayan capek juga dari lantai 4 ke lantai 7. Mungkin itu sedikit pengorbanan untuk semua hal yang akan kudapatkan nanti secara beruntung. Aku pun naik ke lantai 7, pakai eskalator yang udah di-off-kan. Capek juga eui.
“flush” aku mengguyur toilet yang telah kupakai itu. Lalu cuci tangan dan keluar dari WC pria di lantai 7 itu. Lalu aku melihat pintu WC wanita. Entah kenapa ada sedikit rasa penasaran. Cuma penasaran sama interiornya aja sih. Ngga ada niat macem macem. Toh siapa juga cewek yang pake toilet di lantai 7 jam segini? Aku pun menyelinap masuk ke WC wanita itu.
“ooh seperti ini toh WC cewek, ngga ada yg beda kecuali tidak adanya tempat kencing berdiri(yaiyalah)” batinku. Lalu aku dikagetkan dengan suara langkah menuju WC itu. Aku pun bersembunyi di salah 1 bilik toilet.
Suara langkah itu makin terdengar, semakin mendekat. “duuh dimana sih si kinal? Katanya di toilet? Kok ngga ada? Apa jangan-jangan aku salah toilet ya? Yaudalahya aku buang air dulu sebentar, terus janjian sama kinal di depan fX aja” kata cewek yang baru masuk ruang WC itu.
Bunyi langkahnya semakin mendekat. “Oh damn, dia berhenti di depan bilik toilet yang kudiami saat ini”
“cklak” bunyi pintu bilik toilet terbuka, sebelum pintu terbuka, aku sembunyi di belakang pintu itu. Sehingga dia tidak melihatku di dalam.
Lalu dia masuk ke bilik yang sama denganku, menutup dan mengunci pintu tanpa melihatku karena posisi badannya menghadap ke toilet. Lalu.. ia menurunkan roknya. “oh god, mimpi apa gue tadi?”
Dia membalikkan badan untuk menggantung roknya ke hanger yang berada di pintu, dan diapun terkejut melihatku ada di bilik yang sama dengannya. Aku kaget, bahwa cewek itu adalah Ve. Member yang kusukai . dan aku melihatnya dalam keadaan tidak pakai rok. Entah mengapa aku hanya bisa diam melihatnya.
“ka.. kamu kok bisa ada di sini?” Tanya ve terbata-bata. Masih shock dia sambil mengambil kembali roknya dan menutupi bagian bawah tubuhnya.
Aku tidak percaya atas apa yang kulakukan setelah itu. Aku mengacungkan jari telunjuk-ku di depan bibirnya sambil melangkah mendekatinya. Dia hanya diam saat aku melakukannya.
“kamu ngga lupa kan sama aku? Aku fans kamu dari awal karirmu di JKT48. Tapi entah selama ini aku merasa belum mendapatkan fanservice yang baik dari kamu. Aku ingin, mendapatkan fanservice itu.. sekarang” ucapku. Jujur akupun ngga percaya bahwa aku mengatakan hal tersebut, mungkin inilah yang namanya dibajak perasaan.
Ia kaget mendengar perkataanku barusan, diam lalu menundukkan kepala. Mulai terdengar isak tangis, tak lama pun ia mengucap “maaf aku belom jadi idol yang baik bagimu.”
Kudongakkan kepalanya sehingga ia menatapku. Kuseka air matanya yang mengalir. Lalu kucium bibirnya. Tidak ada reaksi apapun darinya.
Sekitar 5 detik telah berlalu, dan belum ada respon apapun darinya. Kucoba menyelipkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Dan saling bertemulah lidah kami. Baru di saat itu, dia member rekasi. Lidahnya ikut bergerak mengikuti gerakan lidahku. Ia mulai memejamkan matanya. Sepertinya ia menikmatinya.
Tak lama kemudian, kulepas ciumanku dari mulutnya. Kugerayangi lehernya dengan mulutku. Sedangkan jari telunjuk tangan kiriku yang menggantikan lidahku untuk bermain bersama lidahnya.. dia hanya bisa merespon dengan desahan kecil sambil terus mengemut jari telunjukku.
Lalu ku coba menyentuh payudaranya yang kenyal itu. Ku tak bisa taksir ukurannya, karena itu pertama kalinya aku menyentuh payudara wanita, selain payudara ibuku di saat aku kecil dulu. Lagipula aku tidak peduli juga dengan ukuran payudaranya, toh sekarang udah digenggamanku. Kupijat dadanya, lalu ku remas remas.. hisapannya pada jariku semakin kencang. Sambil mengeluarkan suara “emmph” tanda bahwa ia menikmatinya..
Ku lepas jari telunjuk kiri ku dari mulutnya, lalu ku angkat kaos yang dikenakannya. Dia tidak menolak, justru ikut membantu membuka kaosnya. Dan melepas kaitan BH nya sekalian. Aku tidak percaya, di depan mataku saat ini, terlihat payudara yang benar-benar menggoda dari seorang idolaku. Bentuknya bagus, lalu pentilnya sangat menggoda, berwarna pink. Tak kuat nafsu melihatnya. Aku pun dengan nafsu langsung menyusu pada pentil kanannya. Dan tangan kiriku memilin pentil kirinya. Dia hanya merocos keenakan. Sepertinya dia sudah tidak peduli dimana kami melakukan hal ini. Dan secara logika juga, siapa yang bakal ke toilet yang berada di lantai paling atas mall tersebut pada jam segini?
Kini tangannya sudah mulai aktif meraba-raba celanaku. Aku tau apa yang sudah diincar oleh nafsunya itu. Apalagi kalau bukan penisku? Yah kalau udah begini, ku biarkan saja tangannya menggerayangi daerah selangkanganku, dibuka pengait jeansku, dan dibuka pula resletingnya. Lalu dilanjutkan dengan sedikit menurunkan celana jeansku. Kini hanya ada kain celana dalam yang memisahkan antara penisku dengan tangannya. Tak lama kemudian, dia turunkan juga itu kain penghalang. Sehingga mencuatlah menara penisku yang sudah tegang daritadi.
“hmm punyamu bagus juga, bolehkah ku mencicipinya?” Tanya dia kepadaku. Pertanyaan itu langsung bikin aku kaget. Dan aku pun berbalik nanya. “kok kamu bisa menilai punyaku bagus atau tidak?”
“hehe, meskipun aku pemalu, tapi aku tetap fashionable kan?” Tanya dia balik.
“loh apa hubungannya?” jawabku bingung.
“hmm dulu kan aku model ya, nah selama jadi model itu. Aku udah ngga asing lagi sama alat kelamin pria. Toh pas audisi model juga, aku disuruh puasin nafsu managernya,keperawananku juga diambil sebagai modal awal karir aku di dunia modelling. Aku juga udah beberapa kali ikut nude photosession.” Jelasnya.
Sumpah, aku ngga percaya dengan apa yang dijelaskannya barusan. Benar-benar ngga disangka, gadis pendiam sepertinya, ternyata telah melalui karir seperti itu.
“hei kok diem? kamu kecewa ya sama aku?” Tanya dia kepadaku. Sambil mendudukkanku di toilet.
“hmm semoga ini ngga bikin kamu kecewa deh” katanya. Lalu dia mulai mengocok penisku. “maaak, nggak kuat ini gue bener-bener dilayanin sama idola gue” batinku..
Dia mendekatkan bibirnya ke penisku, dan mulai menciuminya, menjilatinya, dan mengulumnya. Aku hanya bisa meracau keenakan menikmati permainannya. Kulihat jam tanganku, sudah jam 11. Sebentar lagi fX ditutup. Aku berkata kepadanya , “ve, udah jam 11, sebentar lagi tutup nih”
“wah iya sebentar lagi, yaudah kita main cepat aja ya” jawabnya sambil melepas celana dalamnya dan segera menancapkan penisku ke dalam memeknya. “astaga seberapa beruntungnya gue saat ini, dilayani idola gue dalam urusan sexual” batinku bangga.
Tak lama kemudian, serasa ada yang membanjur penisku. Gerakan ve pun langsung lemas. “aku keluar, sekarang giliranmu” katanya. Mendengar perkataannya, aku langsung terkontrol emosi. Kubalikkan posisiku dengannya, sekarang dia yang duduk di toilet.. kuhujamkan terus penisku ke memeknya. Kami berdua sama sama meracau tidak karuan di bilik toilet itu.
Sekitar 5 menit. Aku merasa tidak tahan lagi. Aku meracau lebih heboh dari sebelumnya. Ve menyadari bahwa aku sudah mencapai limit. Aku benar-benar tidak percaya, dia justru menahan badanku agar tidak mencabut penisku. Alhasil dalam hitungan detik.. “crot crot crot”, mungkin sekitar 9 semburan sperma dari penisku. Banyak yang luber keluar memeknya.
“tenang aja sayang, aku lagi ngga di masa subur kok.” Ucapnya lalu mencium bibirku kembali.
Setelah itu kami kembali berpakaian. Tapi ada yang janggal. Dia tidak memakai celana dalam di balik roknya. Aku bingung, apa yang dia rencanakan. Mungkin dia takut ketauan karena celana dalamnya basah.. Tiba tiba dia mengambil sesuatu di tasnya.
Dia mengambil benda yang ngga ada hubungannya sama sekali dengan apa yang kami lakukan tadi. Dia mengambil spidol. Untuk apa? Dia menuliskan kata-kata di celana dalamnya. Lalu memberikan celana dalamnya kepadaku dan langsung pergi meninggalkanku di bilik toilet ini.
“I love you and your dick” itulah kata-kata yang dituliskan di celana dalamnya yang kini berada di genggamanku.
Gileee, hoki amat gue. Udah dapet fanservice plus plus. Dapet Rare SWAG pula.. kalau gue jual dapet berapa yah? Haha becanda, ngga bakal dijual juga sih. Yakali gue post #WTS Celana dalam + message dari Veranda.. haha LOL..
Ku keluar dari fX. Udah lumayan sepi. Terlihat temanku masih setia menunggu.
“Gile lu, lama amat kencingnya. Gue nungguin dari tadi nih” cetusnya.
“maaflah, gue tadi kencingnya 2x eui. Jadi maklumin aja yah” jawabku dengan santai. Tidak mungkin juga aku cerita tentang apa yang kulakukan barusan dengan seorang idol.
Beberapa hari kemudian, aku terkaget-kaget saat melihat di twitter bahwa ve follow akun twitterku. Dan tak lama kemudian ada sebuah direct message darinya. Saat kubaca, dia memberitahu akun LINE-nya. Setelah ku save contact dan coba chat dia di LINE. Dia menghapus Direct messagenya di twitter itu, dan unfollow akun ku kembali.
Udah kontak lewat LINE? Apa yang bisa anda pikirkan setelah itu? Ya.. kami biasa melakukan chatsex di sana, sesekali phonesex lewat LINE call. Kadang kami membuat janji bertemu setelah ia theater untuk melakukan fast sex. Atau sesekali kami janjian di suatu motel untuk melakukan hal gila itu semalaman…
Seorang idol juga punya cinta~ jadi jangan salahkan saya ya . kami hanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh sepasang manusia yang saling mencintai.

Vienny Pacar Pertamaku



Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, kulihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya, sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 16 tahun), mempunyai wajah yang manis sekali dan kulitnya walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus.


Aku berkata, "Siapa nama kamu?" dia jawab Vienny.
Setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing. Besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya sebagai jalan pertama, sekaligus cinta pertamaku membuatku deg-degan, tetapi namanya lelaki yah... jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 7 sore, aku telah berdiri di depan rumahnya sambil mengetuk pagarnya, tidak lama setelah itu Vienny muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali, dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Aku tanya "Mana ortu kamu...?" dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
"Oohh..." jawabku. Aku tanya lagi, "Terus Papa kamu mana?" dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (Papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan Wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku, dan tanpa disuruh pun dia langsung memeluk dari belakang.
Penisku selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motorku waktu itu sangat mendukung, yaitu Satria-F dengan jok yang dipapas jadi agak sedikit nungging).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan, kami langsung pulang ke rumahnya. Setelah tiba kulihat rumahnya masih sepi, mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang "Masuk yuk! Papaku kayaknya belum datang."
Akhirnya setelah memarkir motor, aku langsung mengikutinya dari belakang, aku langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku. Kulihat jam ternyata sudah pukul setengah 10 malam, setiba di dalam rumahnya kulihat tidak ada orang.

Kubilang, "Pembantu kamu mana?" dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
"Oohh..." jawabku.
Aku tanya lagi "Jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?" dia jawab iya.
"Terus Papa kamu yang bukain siapa..."
"Aku..." jawabnya.
"Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih..." tanyaku.
Dia bilang paling cepat juga jam 12 tengah malam.

Langsung saja pikiranku ngeres sekali.
Kutanya lagi "Kamu memang mau jadi pacarku..?"
Dia bilang dengan sedikit agak "Iya..."
Lalu aku bilang "Kalau gitu sini dong dekat-dekat aku..!"
Belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung kutarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali, tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil kuremas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) dia pun mengeluh, "Ohh.. oohh sakit" katanya.

Aku langsung mengulum telinganya sambil berbisik, "Tahan sedikit yah..." dia cuma mengangguk.
Payudaranya kuremas dengan kedua tanganku sambil bibirku menjilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung kulumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kami pun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penisku langsung kurasakan menegang dengan kerasnya. Aku mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku di balik celanaku, dia cuma menurut saja, lalu kusuruh untuk meremasnya.

Begitu dia remas, aku langsung mengeluh panjang, "Uuhh... nikmat Vien" kataku.
"Teruss..." dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan wajahku di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya, aku jilati payudaranya sambil kugigit-gigit kecil di sekitar payudaranya "Aahh... aahh..."
Dia pun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya, aku langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama aku main cewek, baru aku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Kujilat kedua payudaranya sambil kugigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah.
"Aahh... sakkiitt..." tapi aku tidak ambil pusing, tetap kugigit dengan keras.
Akhirnya dia pun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajahku. Sambil aku memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut.
Dia pun kembali mendesis, "Ahh... aahh..." kemudian kutarik payudaranya dekat ke wajahku sambil kugigit pelan-pelan.
Dia pun memeluk kepalaku tapi tangannya kutepiskan. Sekelebat mata, aku menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup, aku pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap, karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang membuat hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju aku. Aku pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tanganku tapi tetap dalam keadaan berdiri kujilati kembali payudaranya. Setelah puas mulutku pun turun ke perutnya dan tanganku pelan-pelan kuturunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali menghisap puting payudaranya. Tanganku pun menggosok-gosok selangkangannya, langsung kuangkat pelan-pelan rok yang dia kenakan, terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih.
Kuremas-remas liang kewanitaannya dengan terburu-buru, dia pun makin keras mendesis, "Aahh... aakkhh... ohh... nikmat sekali..." Dengan pelan-pelan kuturunkan CD-nya sambil kutunggu reaksinya, tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Aku pun menjilatinya dengan penuh nafsu, dia pun makin berteriak, "Aakkhh... akkhh... lagi... lagii..."

Setelah puas aku pun menyuruhnya duduk di lantai sambil aku membuka kancing celanaku dan kuturunkan sampai lutut, terlihatlah CD-ku. Kutuntun tangannya untuk mengelus penisku yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Dia pun mengelusnya lalu mulai memegang penisku. Kuturunkan CD-ku, maka penisku langsung berkelebat keluar hampir mengenai wajahnya. Dia pun kaget sambil melotot melihat penisku, aku menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga, seperti dipangut dia menurut saja apa yang kusuruh lakukan. Dengan terburu-buru aku pun melepas semua bajuku dan celanaku, kemudian karena dia duduk di lantai sedangkan aku di kursi, kutuntun penisku ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Kusuruh untuk membuka mulutnya tapi sepertinya dia ragu-ragu.

Setengah memaksa kutarik kepalanya, akhirnya penisku masuk juga ke dalam mulutnya.
Dengan perlahan dia mulai menjilati penisku, langsung aku teriak pelan, "Aakkhh... aakkhh..." sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penisku di dalam mulutnya.
"Aakk... akk... nikmat Vieennn..."
Setelah agak lama akhirnya aku suruh berdiri dan melepaskan CD-nya, tapi muncul keraguan di wajahnya, akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga, maka telanjang bulatlah dia di depanku sambil berdiri. Aku pun tak mau ketinggalan, aku langsung berdiri dan langsung melepas CD-nya. Aku langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tanganku meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, dia pun mendesis "Aahh... aahh... aahh... aahh..." sewaktu tangan kananku aku turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama baru aku sadar bahwa jariku telah basah. Aku pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan kusiapkan penisku. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya dari belakang. Kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, kusodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok, tangannya pun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, "Aahh... ssaayaa... ssaayaangg... kaammuu..." aku pun terus menyodok dari belakang.
Mungkin karena kering, penisku nggak mau masuk-masuk juga. Kuangkat penisku lalu kuludahi tanganku banyak-banyak dan kuoleskan pada kepala penisku dan batangnya, dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya kembali.

Pelan-pelan kucari dulu lubangnya, begitu kusentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, "Ahh... aahh..." kutuntun penisku menuju lubang senggamanya itu tapi aku rasakan baru masuk kepalanya saja, dia pun langsung menegang tapi aku sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras kusodok kuat-kuat lalu aku rasa penisku seperti menyobek sesuatu, maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis "Ssaakkiitt..." aku rasakan penisku sepertinya dijepit oleh dia keras sekali sehingga kejantananku terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya.
Aku lalu bertahan dalam posisiku dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata, "Tahann.. Vienny... cuman sebentar kok..."

Aku memegang kembali payudaranya dari belakang sambil kuremas-remas secara perlahan dan mulutku menjilati belakangnya, lalu lehernya, telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulutku agak lama.
Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciumanku di badan dan remasan tanganku di payudaranya "Ahh... aahh... ahh... kamu sayang sama aku kan?" dia berkata sambil melihat kepadaku dengan wajah yang penuh pengharapan.
Aku cuma menganggukkan kepala, padahal aku sedang menikmati penisku di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan aku sedang berada di suatu tempat yang dinamakan surga.
"Enak Vien?" tanyaku.
Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, "Aahh... aahh..." lalu aku mulai bekerja, aku tarik pelan-pelan penisku lalu aku majukan lagi, tarik lagi, majukan lagi, dia pun makin keras mendesis, "Aahh... ahh... ahhkkhh..."

Akhirnya ketika kurasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi, aku pun mengeluar-masukkan penisku dengan cepat, dia pun semakin melenguh menikmati semua yang aku perbuat pada dirinya sambil terus meremas payudaranya yang besar itu.
Dia teriak "Akuu mauu keeluuarr..."
Aku pun berkata "Aahhkk Viennyyyy..."
Aku langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai aku rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya, tapi aku benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara "Ahh... aahh... ahh... akkhh... akkhh... truss..." langsung dia bilang "Akkkuuu keelluuaarr... akkhh... akhh..." tiba-tiba dia mau jatuh, tapi aku tahan dengan tanganku.
Kupegangi pinggulnya dengan kedua tanganku sambil kukocok penisku lebih cepat lagi "Akkhh... akkhh... akkkkuuu mauu... keelluuaarr... akkhh..." peganganku di pinggulnya kulepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.

Dari penisku menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, "Ccroott... croott... ccrroott..." Aku melihat air maniku membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, "Akhh..., thanks Vienny..." sambil berjongkok kucium pipinya sambil kusuruh jilat lagi penisku. Dia pun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu aku bilang untuk memakai pakaiannya, dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.

Setelah kami berdua selesai aku mengecup bibirnya sambil berkata "Aku pulang dulu yah sampai besok sayang...!" Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin menyesal, tidak tahu ahh. Kulihat jamku sudah menunjukkan hampir tengah malam, aku pulang dengan sejuta kenikmatan.

Shania Tetangga Kost ku yang lucu




Aku kost di daerah Senayan, kamarku bersebelahan dengan kamar seorang gadis manis yang masih kecil. Tubuhnya mungil, putih bersih dan senyumnya benar-benar mempesona. Dalam kamar kostku terdapat beberapa lubang angin sebagai ventilasi. Mulanya lubang itu kututup dengan kertas putih. Tapi setelah gadis manis itu kost di sebelah kamarku, maka kertas putih itu aku lepas, sehingga aku dapat bebas dan jelas melihat apa yang terjadi pada kamar di sebelahku itu.

Suatu malam aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku dibuka, lalu aku seperti biasanya naik ke atas meja untuk mengintip, ternyata gadis itu baru pulang dari sekolahnya. Tapi kok sampai larut malam begini tanyaku dalam hati. Gadis manis itu yang belakangan namanya kuketahui yaitu Shania, menaruh tasnya lalu mencopot sepatunya kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya. Akhirnya dia duduk di kursi sambil mengangkat kakinya menghadap pada lubang angin tempat aku mengintip. Shania sama sekali tidak bisa melihat ke arahku karena lampu kamarku telah kumatikan sehingga malah aku yang dapat leluasa melihat ke dalam kamarnya.

Pada posisi kakinya yang diangkat di atas kursi, terlihat jelas celana dalamnya yang putih dengan gundukan kecil di tengahnya. Lalu tiba-tiba saja penisku yang berada dalam celanaku otomatis mulai berdiri, mataku mulai melotot melihat keindahan yang tiada duanya. Apalagi ketika Shania bangkit dari kursi dan mulai melepaskan baju dan rok sekolahnya sehingga kini tinggal BH dan celana dalamnya. Sebentar dia bercermin memperhatikan tubuhnya yang ramping putih dan tangannya mulai meluncur pada payudaranya yang ternyata masih kecil juga. Diusapnya payudaranya dengan lembut, dipelintirnya pelan puting susunya sambil memejamkan mata, rupanya dia mulai merasakan nikmat. Lalu tangan satunya meluncur ke bawah, ke celana dalamnya digosoknya dengan pelan, tangannya mulai masuk ke celananya dan bermain lama. Aku bergetar lemas melihatnya, sedangkan penisku sudah sangat tegang sekali. Lalu kulihat Shania mulai melepaskan celana dalamnya dan... Woww, belum ada bulunya sama sekali, sebuah vagina yang menggunduk seperti gunung kecil yang tak berbulu. Ohh, begitu indah nan mempesona. Lalu kulihat Shania naik ke tempat tidur, menelungkup dan menggoyangkan pantatnya ibarat sedang bersetubuh.
Shania menggoyang pantatnya ke kiri, ke kanan, naik dan turun. Rupanya sedang mencari kenikmatan yang ingin sekali dia rasakan, tapi sampai lama Shania bergoyang rupanya kenikmatan itu belum dicapainya, Lalu dia bangkit dan menuju kursi dan ditempelkannya vaginanya pada ujung kursi sambil digoyang dan ditekan maju mundur. Kasihan Shania, rupanya dia sedang terangsang berat. Suara nafasnya yang ditahan menggambarkan dia sedang berusaha meraih dan mencari kenikmatan surga namun belum juga selesai. Shania kemudian mengambil spidol, dibasahi dengan ludahnya lalu pelan-pelan spidol itu dimasukan ke lubang vaginanya, begitu spidol itu masuk sekitar satu atau dua centi matanya mulai merem melek dan erangan nafasnya makin memburu "Ahh.. Ahh.." Lalu dicopotnya spidol itu dari vaginanya, sekarang jari tengahnya mulai juga dicolokkan ke dalam vaginanya. Pertama, jari itu masuk sebatas kukunya kemudian dia dorong lagi jarinya untuk masuk lebih dalam yaitu setengahnya, dia melenguh "Oohh... Ohh... Argghh.." tapi heran aku jadinya, jari tengahnya dicabut lagi dari vaginanya, kurang nikmat rupanya. Lalu dia melihat sekeliling mencari sesuatu, aku yang menyaksikan semua itu betul-betul sudah tidak tahan lagi.

Penisku sudah sangat mengeras dan tegang luar biasa, lalu kubuka celana dalamku dan sekarang penisku bebas bangun lebih gagah, lebih besar lagi ereksinya melihat vagina si Shania yang sedang terangsang itu. Lalu aku mengintip lagi dan sekarang Shania rupanya sedang menempelkan vaginanya yang bahenol itu pada ujung meja belajarnya. Kini gerakannya maju mundur sambil menekannya dengan kuat, lama dia berbuat seperti itu dan tiba-tiba dia melenguh "Ahh... Ahh... Ahh.." rupanya dia telah mencapai kenikmatan yang dicari-carinya.

Setelah selesai, dia lalu berbaring di tempat tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Kini posisinya tepat berada di depan pandanganku. Kulihat vaginanya yang berubah warna menjadi agak kemerah-merahan karena digesek terus dengan ujung kursi dan meja. Terlihat jelas vaginanya yang menggembung kecil ibarat kue apem yang ingin rasanya kutelan, kulumat habis. Dan tanpa terasa tanganku mulai menekan biji penisku dan kukocok penisku yang sedang dalamn posisi "ON". Kuambil sedikit krim pembersih muka dan kuoleskan pada kepala penisku, lalu kukocok terus, kukocok naik turun dan "Akhh" aku mengeluh pendek ketika air maniku muncrat ke tembok sambil mataku tetap menatap pada vagina Shania yang masih telentang di tempat tidurnya. Nikmat sekali rasanya onani sambil menyaksikan Shania yang masih berbaring telanjang bulat. Kuintip lagi pada lubang angin, dan rupanya dia ketiduran, mungkin capai dan lelah.
Esok harinya aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru berangkat ke sekolah. Di skolah seperti biasa banyak tugas menumpuk dan rasanya aku pulang agak telat soalnya mau ke warnet dulu untuk menyelesaikan tugas. Di warnet sekiranya sampai jam sembilan malam aku baru selesai. Billing ku matikan dan kubayar tagihan billingku pada op warnet lalu ku nyalakan motor yang terletak di parkiran warnet lalu kupacu motorku dan sekitar jam sepuluh aku sampai ke tempat kostku. Setelah makan malam tadi di jalanan, aku masih membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol. Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya cukup pelan. Aku memang orang yang tidak suka berisik, dalam bicarapun aku senang suara yang pelan, kalau ada wanita di sekolahku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Acara TV rupanya tidak ada yang bagus, lalu kuingat kamar sebelahku Shania, yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membuat aku sangat ingin memilikinya.

Aku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Shania yang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dia sedang betul-betul tidur pulas.

Tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana pendek dan dalam celana pendek itu aku tidak memakai celana dalam lagi dan tidak lupa aku membawa beberapa lembar tissue yang ku lipat dan ku masukkan kedalam kantung celana, aku sudah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura-pura duduk di luar kamar sambil merokok sebatang. Setelah kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, ternyata pintunya tidak di kunci, mungkin dia lupa atau juga memang sudah ngantuk sekali jadi dia tidak memikirkan lagi tentang mengunci pintu.

Dengan berjingkat, aku masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam, kuhampiri tempat tidurnya lalu aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajahnya yang mungil dan Alaamaak Shania memakai daster yang tipis, daster yang tembus pandang sehingga celana dalamnya yang sekarang berwarna merah muda sangat jelas terbayang di hadapanku. "Ohhhh, glekk" aku menelan ludah sendiri dan repotnya, penisku langsung tegang sempurna sehingga keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya yang segaris, alisnya yang indah dan hidungnya yang sempurna. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh seperti itu.

Setelah aku yakin bahwa Shania benar-benar sudah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Kini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu. Sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan, apalagi celana dalamnya yang mini membuat gundukan kecil ibarat gunung merapi yang masih ditutupi oleh awan membuat penisku mengejat-ngejat dan mengangguk-ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang masih tertutup itu, aku diam sebentar takut kalau kalau Shania bangun aku bisa kena malu, tapi rupanya Shania benar-benar tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan melihat vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang.

"Huaa" aku merinding dan gemetar, kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar terus, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada lubang kecil yang betul-betul indah, bulunyapun masih tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat, aku mendesah lembut. Ahh, indahnya kau Shania, betapa kuingin memilikimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Shania bergerak, rupanya dia menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, karena aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dia sedang tidur pulas.
Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya sehingga kini Shania benar-benar telanjang bulat.

Luar biasa indah sekali bentuknya, dari kaki sampai wajahnya kutatap tak berkedip. Payudaranya yang masih berupa puting itu sangat indah sekali. Akh, sangat luar biasa, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup aroma wanginya yang khas. Oh, aku benar-benar tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di sekitar vaginanya. Aku memang terkenal sebagai si pandai lidah, karena setiap wanita yang sudah pernah kena lidahku atau jilatanku pasti akan ketagihan, aku memang jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Shania ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol klitorisnya yang indah itu.

Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap terus, aku colok terus, kujelajahi gua indahnya sehingga lama-kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Oh, nikmatnya air itu, aroma yang khas membuatku terkejet-kejet, penisku sudah tidak sabar lagi, tapi aku masih takut kalau kalau Shania terbangun bisa runyam nanti, tapi desakan kuat pada penisku sudah sangat besar sekali. Nafasku benar-benar tidak karuan, tapi kulihat Shania masih tetap saja pulas tidurnya. Akupun lebih bersemangat lagi, sekarang semua kemampuan lidahku kupraktekan saat ini juga, luar biasa memang, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang sudah basah. Rasanya seperti sudah siap menanti tibanya senjataku yang sudah berontak untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Shania, namun kutahan sebentar, karena lidahku dan jilatanku masih asyik bermain di sana, masih memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa bagi Shania.

Sayang Shania tertidur pulas, andaikata Shania dapat merasakan dalam keadaan sadar pasti sangat luar biasa kenikmatan yang sedang dirasakannya itu. Tapi walaupun Shania saat ini sedang tertidur pulas secara psycho seks yang berjalan secara alami dan biologis nikmat yang amat sangat itu pasti terbawa dalam mimpinya, itu pasti dan pasti, walaupun yang dirasakannya sekarang ini hanya sekitar 25%. Buktinya dengan nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur serta vaginanya yang sudah basah, itu menandakan faktor psycho tsb sudah bekerja dengan baik. Sehingga nikmat yang luar biasa itu masih dapat dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.
Akhirnya Karena kupikir sudah cukup rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang memang sudah minta terus sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada klitorisnya yang mulai memerah karena nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membuat penisku bergerak sendiri otomatis seperti mencari-cari lubang gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya. Dan ketika penisku dirasa sudah cukup bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati namun pasti penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya. Pelan pelan dan "Sleepp... Slesepp..." kepala penisku yang gundul sudah tidak kelihatan karena batas di kepala penisku sudah masuk ke dalam vagina Shania yang hangat nikmat itu.

Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya Masih. Shania masih pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat "Ehhss... Ehh... Ss" seperti orang ngigau. Lalu kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya "Akhh... Ahh.." betapa nikmatnya, betapa enaknya vaginamu Shania, betapa seretnya lubangmu". Oh, gerakanku terhenti sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang luar biasa dari wajah, Matanya yang segaris serta hidung dan mulutnya yang indah. Ohh Shania, betapa sempurnanya tubuhmu, betapa enaknya vaginamu, betapa nikmatnya lubangmu. Oh, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu.

Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya "Akhh... Akhh.." sungguh luar biasa, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum pernah selama ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Shania ini.

Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi... "Bleesss" aku merasa telah merobek sesuatu dan kulihat Shania agak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dia merasakan kaget dan nikmat juga yang luar biasa dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dia mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa Shania pasti merasakannya walaupun dirasa dalam tidurnya.

Akupun demikian, ketika penisku sudah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi sampai terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah. Gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberikan oleh vagina Shania ini, aneh sangat luar biasa vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan serta lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Benar-benar vagina yang luar biasa. Oh Shania, tak akan kutinggalkan kamu.

Lalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membuat goyangan dan gerakan yang memang sudah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan Shania ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam-dalam. Aakh, sumur Shania memang bukan main, walaupun lubang vaginanya itu kecil tetapi aneh dapat menampung senjata meriam milikku yang kurasa cukup besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di sekitar batang penisku ini, vagina yang luar biasa.

Lama-kelamaan, ketika penisku benar-benar kuhunjamkan habis dalam-dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan seperti rasa nikmat yang luar biasa, yang akan muncrat dari lubang perkencinganku. "Ohh... Ohh.." kupercepat gerakanku naik turun dan akhirnya muncratlah air maniku di dalam vaginanya yang sempit itu. Aku langsung lemas dan segera kucabut penisku itu, takut Shania terbangun.

Dan setelah selesai, aku segera merapikan lagi. Ku seka bersih spermaku, air vaginanya dan darah keperawana Shania yang berceceran keluar bersamaan dari vaginanya ketika penis ku kucabut, celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku, sayang yang betul-betul timbul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh suatu kenikmatan yang tiada taranya. Dan Akupun tertidur dengan pulas.

Keesokan harinya seperti biasa aku bangun pagi, mandi dan siap berangkat ke kantor, namun ketika hendak menutup pintu kamar, tiba-tiba Shania keluar dan tersenyum padaku.
"Mau berangkat kak?" tanyanya, aku dengan gugup akhirnya mengiyakan ucapannya, lalu kujawab dengan pertanyaan lagi.
"Kok Shania nggak sekolah?".
"Nanti kak, Shania giliran masuk siang" akupun tersenyum dan Shaniapun lalu bergegas ke depan rumah, rupanya mau mencari tukang bubur ayam, perutnya lapar barangkali. Ku panaskan motor yang ada di parkiran lalu segera ku pacu motor ke sekolah.

Mova sepupuku yang seksi



Kali ini gw lagi mut buat bikin fanfic nih, niatnya sih buat besok, tapi kalo besok gw gak mut kan ga jadi lagi nanti buat fanficnya, berhubung gw lagi mut dan udah lama jg gw nggak nge post dimari, jadi gw majuin deh beberapa hari dari jadwal yang di tentukan :p
this story is dedicated for mova who was resigning a few weeks ago, check deez awt!


Mova ini sepupuku, orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju seksi atau bicara yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu kenapa kalau saya sedang berada dalam satu ruangan dengan dia, selalu pikiran saya membayangkan hal-hal yang erotik tentang dia yang saya tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.

Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Dan kalau orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya tampak bila dia berpakaian. Rambutnya panjang sebahu dengan payudara yang sedikit lebih besar dari rata-rata, dan mengacung ke atas.
Suatu ketika saya main ke rumahnya bersama orangtuaku, berniat untuk mengunjungi om dan tante ku (orangtua Mova). Saat itu ayah Mova sedang membetulkan mobilnya di kebun depan rumah Mova. Kami semua berada di situ melihat ke dalam mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis di sebelah Mova. Dia berada di sebelah kanan saya. Pada waktu itu Mova memakai baju jenis baju tidur, berbentuk celana pendek dan baju atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih dengan gambar hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.
Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di hiasi renda-renda berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur jadi bentuknya longgar dan lepas di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya berupa celana pendek longgar juga, sewarna dengan bagian atasnya dengan bahan yang sama.
Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke arah saya. Pada saat itu lah saya melirik ke arah Mova dan melihat payudara Mova dari celah bawah ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi badan saya saat  itu persis sebahu Mova. Dia tidak menggunakan BH waktu itu. Puting susunya yang coklat dan mengacung kelihatan dengan jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya yang kendor. Hampir seluruh payudara Mova yang sebelah kiri dapat kelihatan seluruhnya. Tentu saja dia tidak sadar akan hal itu.
Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV di ruang tamu. Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap langsung ke TV. Dan Mova duduk di sofa panjang di bagian sebelah kiri dari TV di depan kiri saya. Saya dapat langsung melihat TV, tapi untuk orang yang duduk di sofa panjang itu harus memutar badannya ke kiri untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut menghadap ke arah lain.

Mova akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV karena dalam posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa kain sejenis sutera putih yang bahannya sangat lemas, sehingga selalu mengikuti lekuk tubuhnya. Baju tidur ini begitu pendek sehingga hanya cukup untuk menutupi pantat Mova. Bagian atasnya begitu kendor sehingga setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mova dan dia harus berulang-ulang membetulkannya.
Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke atas dan menampakkan vagina Mova dari belakang. Kebetulan saya duduk di bagian yang lebih ke belakang dari pada Mova, jadi saya dapat melihat langsung dengan bebasnya. Semakin dia bergerak, semakin bajunya tersingkap ke atas pinggulnya. Mova pada saat itu tidak memakai pakaian dalam sama sekali, karena kebetulan rumah sedang sepi dan sebetulnya itu waktu tidur siang.
Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan lagi. Mova agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di situ juga. Sesekali dia bangun untuk ke dapur mengambil minum, dan sekali ini tali bajunya turun lagi ke lengannya dan menampakkan sebagian payudara kiri Mova. Kali ini dia tidak membetulkannya dan berjalan terus ke arah dapur.
Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dapur, akhirnya payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan betul-betul kelihatan seluruhnya. Sambil berjalan balik dari dapur, Mova tidak kelihatan perduli dan membiarkan payudara kirinya tetap tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi karena memang baju tidurnya yang belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun lagi dan turun lagi. Dan setiap kali payudaranya selalu meledak keluar dari balik bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan yang sebelah kiri. Mova tetap kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu payudara terbuka bebas seperti itu.

Mova kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV. Sekarang payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah beberapa lama dan menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju tidurnya sudah tidak rapi dan terangkat sampai ke pinggulnya lagi. Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup, saya hanya dapat melihat sebagian bawah pantat Mova yang mulus dan sexy.
Mova menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah kanan turun. Sekarang kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya tanpa penutup. Dari posisi saya tentunya hanya dapat melihat yang bagian kanannya karena saya duduk di bagian kanan. Mova balik lagi ke dapur untuk yang kesekian kalinya mengambil minum dan tetap membiarkan payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi telungkup melihat TV.

Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak mungkin karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan sedang malas diajak ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena saya tetap bertanya-tanya ini itu ke dia, akhirnya dia pun mulai menanggapi saya.
Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk, akhirnya dia membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya. Pada saat itu lah vaginanya terlihat dengan sempurna terpajang menghadap saya. Perlu diketahui, payudara Mova masih tetap tergantung bebas dan padat tanpa penutup karena dia tidak repot-repot lagi membetulkan letak tali bajunya.
Baju tidur Mova terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap ngobrol seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami ngobrol dengan posisi dia seperti itu. Kadang-kadang malah kakinya mengangkang menampakkan vaginanya. Dan dia tetap bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.

Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil makanan dari atas meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mova mengintip dari celah pahanya dari belakang tepat 1-2 meter di depan wajah saya. Saya buka retslueting saya yang dari tadi sudah berisi penis yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan mengeluarkannya dari celana dalam saya.
Dari belakang saya menghampiri Mova perlahan. Pada saat ini dia masih belum tahu dan masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada tangan yang memegang kedua payudaranya dari belakang dan merasakan ada benda panjang, besar dan hangat menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan belahan pantatnya.
Mova terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mova dengan kedua tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya ke dalam vaginanya. Vagina Mova selalu basah dari pertama karena dia dapat menjaga situasi dirinya sehingga tetap basah walaupun pada saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain sex. Penis saya masuk ke dalam Vagina Mova dari belakang. Mova melenguh tanpa dapat berbuat apa-apa karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya bertumpu ke atas meja makan.
Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SMA tapi mainnya sudah seperti anak kuliahan. Saya mulai membuat gerakan maju mundur sambil tangan saya masih meremas-remas payudaranya. Mova terdorong-dorong ke meja makan di depannya, payudaranya bergoyang-goyang seirama dengan dorongan penis saya ke dalam vaginanya. Kaki Mova dalam posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.
Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya ke dalam vagina Mova, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke bagian paha dalam Mova yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya. Setelah semprotan terakhir di dalam vagina Mova, kami masih berdiri lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya lunglai ke depan, kepala Mova juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir membasahi tubuh kami.

Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mova, dan kembali memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke atas. Mova masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu dengan kedua tangan ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya masih terpajang bebas bergerak seirama dengan desah napasnya.

Saya kembali duduk di depan TV, dan Mova kembali ke sofa panjang tempat tadi dia berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan duduk tanpa membetulkan letak dan posisi bajunya atau membersihkan bekas-bekas sperma dan keringat yang ada di sekujur tubuhnya.
Mova duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan jelas karena posisi duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya setengah terpejam tergolek di atas sandaran sofa. Tangannya lunglai di samping badannya. Napasnya masih terengah-engah. Dia melirik sedikit ke arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum nakal padanya bagaikan normalnya anak umur 15 tahun. Dan dia berdiri berjalan masuk menuju ke kamar tidurnya.

Mova ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul cuek. Pada saat lain dimana saya sedang main ke rumahnya sendiri menggunakan sepeda dengan tujuan utama untuk menyampaikan pesan ayah/ibu ke orangtua-nya namun mereka tidak ada dirumah, Mova kerap kali memakai baju semaunya dan sangat minim tanpa repot-repot pakai pakaian dalam. Kadang-kadang hanya memakai T-shirt sebatas pantat yang kebesaran dan longgar tanpa pakai apa-apa lagi, dan sudah kebiasaan Mova kalau duduk posisinya tidak rapi, sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang dan menampakkan vaginanya yang segar dan basah.

Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih ‘backless’ tipisnya yang mini dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting susunya seringkali nampak mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya memakai kimono handuk hijau mudanya sebatas paha. Dan kalau pakai kimono begitu dibiarkannya tali pinggangnya tidak diikat hingga bagian depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk nonton TV di sofa tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah telanjang. Dan Mova sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah. Vaginanya selalu bebas tanpa penutup.

Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA putih abu-abu. Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana dalam dan BH-nya dulu. Dan itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia sedang melepas sepatu dan kaos kakinya, yaitu di ruang tamu, dan di depan mata saya.
Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia tertawa bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai. Terus biasanya dia kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju OSIS SMA-nya ditambah payudaranya yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mova bergerak dengan puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan mengeras.
Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana, keluarkan penis, angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli dia sedang melakukan apa dan memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi tidak berkata apa-apa sambil mulai menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk vaginanya.
Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan apapun aktivitasnya yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah seringkali sepertinya aktivitas Mova tidak terganggu dengan adanya gesekan penis tegang dalam vaginanya. Karena pernah suatu waktu dia masak di dapur dengan telanjang bulat karena mungkin pikirnya tidak ada orang di rumah.

Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang saya menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan penis berat saya yang sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek biasanya dia hanya bilang, “Eh kamu..!”
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya, sedikit menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan payudaranya dan melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan menyantapnya sampai selesai.
Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali saya harus naik ke kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam vagina Mova. Dan itu saya lakukan ‘anytime-anywhere’ di rumahnya selama hanya ada Mova sendiri di rumah.

Sepertinya Mova begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia menempatkan posisi tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan vaginanya yang segar, bersih, sehat, basah dan berlendir itu 24 jam buat limpahan sperma dari penis saya yang bersih, besar, berat dan panjang (walaupun waktu itu saya masih belum terlalu dewasa) ini di dalamnya. Mungkin ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan lainnya.